SEKONYONG TULISAN UNTUK SEKONYONG KOLASE DI TENGAH MALAM YANG RANCU [#]

Suatu hari, Billy berniat menyusun semacam pengantar pameran dan saya diminta sekedar membantu proses edit. Namun, himpitan waktu membuat Billy mengerahkan sorot mata sayu dan manyunan bibir keriting. Memelas dan memohon. Maka, inilah interpretasi bebas saya berdasarkan secuil obrolan dadakan bersama Billy di sela kegilaannya mensetting ulang karya dan mengukur frame di momen yang sempit itu.

welcome pix

Ini adalah sekonyong [pameran] kolase.

Beberapa minggu sebelum 2012 berakhir, Billy resah banget, akibat sejumput perasaan menganggur dan bertopang dagu tanpa pernah bisa benar-benar menikmati keluasan langit malam, selama lebih dari setahun terakhir. Keresahan yang dengan cepat ditangkap teman-teman dekatnya, dan tanpa banyak blaublau rumit, tiba-tiba Billy disodorkan tanggal dan tempat untuk berpameran. Mereka yang sigap ini terutama teman-teman dari lingkaran yang menjadi salah satu referensi awal karya-karya kolase Billy: punk.

Estetika [atau katakanlah, perbincangan soal] punk – tanpa perlu terlebih dahulu mendramatisasi secara berlebihan segala perdebatan soal pelabelan punk dan so-called-subkultur; memang telah sekian tahun lekat dengan keseharian Billy. Siapa bisa menyangkal kemampuan lirik-lirik dan distorsi punk dalam merecoki telinga anak-anak muda tertentu untuk berhenti sejenak dan menoleh? Dengan jujur anak terminal dago (auch) ini mengakui keterpesonaannya pada hakikat kebebasan [dan dengan demikian esensi kenakalan] dalam punk. Punk lantas menjadi semacam saluran atas hasrat Billy untuk menjadi baong dan meresapi seluasnya makna pola pikir kumahaa ing yang oh-sungguh-cutting-edge itu. Mari kita abaikan dulu pemikiran tipikal bagaimana stagnansi atas keteraturan monoton yang ditawarkan kultur mapan lantas menjadi semacam pembenaran untuk menjadi ugal-ugalan. Toh, inilah sesungguhnya kekhasan penerimaan lapis pertama yang tidak semestinya kita pungkiri, sama halnya dengan pemahaman lapis pertama atas racauan Sex Pistols, kritik Crass, atau kebengalan Dead Kennedys. Terma pemberontakan dan idealisme politis khas tradisi punk yang lebih esensial, tentu bergulir setelah sang individu melewati proses pendalaman makna yang menyusul kemudian.

Persentuhan dengan punk memang menjadi pemicu utama Billy mendalami kolase lebih serius. Jamak jika kemudian Billy merasa perlu berterima kasih pada Gee Vauchers dan Winston Smith. Lantas, mengapa kolase? Teknik ini sebenarnya menjadi pilihan curahan kreativitas Billy karena ia salah gaul. Salah gaul yag membawa berkah. Serius. Ketika ia terpikir untuk menjadi seniman drawing yang amboi, pada saat yang sama pula ia menjalin keintiman asyik masyuk dengan KenTerror dan Pikkfukk, dua orang sahabat yang namanya senantiasa ia sebut dengan decak kagum atas kemahiran menggambar mereka. Untunglah, di saat Billy tersadar akan kekurangcakapannya dalam mengguratkan garis-garis ciamik, ia teringat pada insting destruktif bawaan lahir yang cukup mustajab.

Petualangan merobek kertaspun dimulai. Scrap books dan segala yang ongkang-ongkang seperti dinding kosong menjadi sasaran awal eksplorasi ini, sejalan dengan mulai aktifnya Billy mengumpulkan kertas-kertas bekas. Dengan leluasa, ia nikmati keliaran gerilya gunting tempel. Seperti layaknya anak punk yang tidak pernah abai berbekal jarum dan benang, gunting dan lem adalah perangkat yang tidak pernah absen berada dalam tas Billy [dan cutter, tentu saja].

way off live - Copy
Billy adalah seniman kolase impulsif, ia lebih kepincut pada sesuatu yang kerap ia sebut sebagai kolase primitif, satu gambar terbatas yang terpampang di kertas bekas yang ia temukan. Meskipun hasil kolase digital Billy kerap membuat penikmatnya (termasuk saya) takjub, secara personal ia cenderung kurang puas pada karya kolase menggunakan reproduksi gambar sebagai materi utama. Materi berharga mahal bagi Billy terutama terletak pada sobekan-sobekan kertas terabaikan yang nyaris tidak memiliki kemampuan untuk menjadi imaji repetitif. Berbeda dengan penggarapan kolase digital, kegandrungan yang Billy rasakan saat berkutat dengan kolase primitif sekaligus berarti penolakan atas penundaan waktu penggarapan, apa yang dikerjakan hari ini harus selesai hari ini. Inilah momen melenakan kala merekreasikan dan merekonstruksi imaji-imaji dari gambar-gambar teronggok dan terlupakan dari majalah-majalah dan poster-poster yang pernah melewati masa-masa harum dalam lembaran glossy kapitalisme global. Sebagaimana punk dalam sejarahnya, Billy pun tengah mendekonstruksi kembali makna keindahan. Kolase niscaya adalah estetika sejati punk atas kesanggupannya menghancurkan dan menata kembali gagasan atas imaji-imaji [mapan]. Tidak mudah memang mencerap mentalitas kreatif punk dalam ujud apreasiasi yang semestinya. Dibutuhkan waktu yang tidak singkat bagi orang-orang awam untuk memahami bahwa punk niscaya lebih dari sekedar dandanan “tidak lazim” atau sekedar pemabuk penuh amarah yang memaki-maki dengan lengkingan distorsi gitarnya.

Demikianlah Billy pun tak ragu membuat artwork untuk cover CD, desain kaos, dan poster di lingkaran pertemanan terdekatnya, karya-karya kolase yang menjadi tema besar di balik pameran Billy kali ini. Tidak terlalu banyak memang karya yang ia hasilkan untuk skena punk jika dibandingkan dengan karya kolase Billy lainnya. Namun bolehlah dikatakan kuantitas bukan melulu hal utama, ketika kecintaan pada skena yang membesarkannya inilah yang menjadi alasan di balik karya-karya yang sebagiannya bisa kita jumpai di pameran ini. Kualitas menjadi penting ketika karya itu sekaligus bermakna keterlibatan dan eksplorasi aktif atas atas apa yang ia percayai dan jalani. Keintiman lantas menjadi kata kunci signifikan dalam meruahkan kreativitas, ketika kenyamanan atas proses berkarya hanya sanggup dihadirkan oleh band atau peristiwa yang diminati, mewujud dalam pencernaan atas komposisi lagu yang kuat dan kedekatan personal dengan band itu sendiri. Persoalannya lantas bukan pada menumpuknya karya dan terpakai/tidaknya karya itu oleh si band yang bersangkutan, melainkan ketika aksi keterlibatan itulah yang menjadi “seni”, dan bukan melulu artefak atas seni itu sendiri.

Berbekal dukungan penuh dari teman-teman dekat dan frame-frame acak pinjaman, serta karya-karya yang mungkin sebagian besarnya sudah pernah kita nikmati dalam bentuk lain di jalanan, di dinding kamar, atau bahkan membalut tubuh kita; inilah pameran sekonyong kolase B//A.

Hidup [dan mari kita dukung ke] B//M [an]!

Ups. pembukaan pameran sudah kurang dari 12 jam lagi. Mungkin ada baiknya saya tidur dan akhiri sekonyong racauan ini dengan kata-kata penutup favorit Billy: Tetap Liar!

Wiranu-anu, 8 Januari 2013

-sanscriptum-

PS: sumpah mati ini bukan catatan kuratorial, karena kalau ini catatan kuratorial, saya pasti sudah gatal mengomentari beberapa anu-anuan dengan teori-teori genit perlu tidak perlu, perihal mengapa justru karya raksasa di pameran ini adalah… kolase digital. Billy barangkali adalah vampir penuh misteri.

[#] tulisan ini adalah sekonyong pengantar untuk pameran “Sekonyong Kolase” B//A di Bandung, 8 – 15 Januari 2013