.It’s in Your Reach, Concentrate.

Saya dan [Seharusnya Ulasan Tentang Konser] Placebo

A friend in need’s a friend indeed, a friend who bleeds is better.
-Pure Morning, Placebo-

Saya mendengarnya tidak dari siapa-siapa. Melainkan langsung dari sejumput tulisan seorang promotor musik ternama Indonesia tanpa sengaja di dunia maya. Maka sontak saya klik opsi untuk menjadi pengikut akun twitternya. Ikut meyakinkan om satu ini, yang dengan nada sok pundung menuliskan kata-kata semacam.. kalo responnya gini2 aja, aku g jd urus placebo! Mending aku urus … (lupa, tapi seingat saya adalah sebuah nama band masa kini banget). Placebo, yeah. Bagaimana saya tidak seketika rela ikut membujuknya dengan semangat seorang pecinta yang jatuh cinta? Terserah.

Dan, pintu tiket pun dibuka. Saya langsung menelepon seorang teman di Jakarta, menitipkan satu tiket untuk saya. Burung yang terbang paling pagi, itulah saya. Perpaduan antara kegirangan membuncah untuk segera memiliki tiket yang seakan-akan menjadi kepastian pertemuan saya dengan Placebo, sensasi euforia seorang fans, kekhawatiran kehabisan tiket, dan selisih harga Rp. 125.000 jika tidak membelinya hari itu (oh, bahkan mungkin juga kesombongan jika saya menjadi orang pertama-tama di Indonesia yang memiliki tiket perjumpaan dengan Placebo). Dan ketika teman saya itu berkata, sudah kubelikan tiket tribun untukmu, saya mengamuk. Tribun?! Ini Placebo! Saya butuh tiket festival, saya tidak peduli selisih harga Rp. 100.000! dan sungguh saya mohon maaf untuk ketidakpedulian atas erangan teman saya, karena hari itu, dia rela membayarkan dahulu tiket saya.

Dan dimulailah hitung mundur menuju 16 Februari 2010, dengan dada berdegup lebih kencang sesaat tiap mengingat momen yang akan hadir itu. Ketika saya yang jarang nonton TV ini melihat untuk pertama kalinya iklan konser ini di TV diiringi lagu Every Me and Every You, saya tercekat. Kedua telapak tangan di pipi saya, mata saya terasa hangat. Seorang teman yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam. Sejurus kemudian dia berkata perlahan .. kamu ngefans banget ya..

Placebo. Pertama kali benar-benar tersadar akan keberadaan mereka dari salah satu kompilasi Britpop olahan lokal yang saya beli di lapak seputaran merdeka medio tahun 1990an. Nancy Boy judulnya, lagu yang biasa dibawakan dalam gigs-gigs Britpop yang menjamur di Bandung kala itu. Entah mengapa saya tidak lantas membeli album pertama mereka, Placebo, mungkin saya tidak cukup gaul dan cukup kaya dan cukup cool untuk itu. Haha. Ketika Without You I’m Nothing keluar pada 1998, saya dengan girang-gemirang membelinya. Placebo, sejak saat itu, menjadi salah satu band dari segelintir band yang membuat saya ingin punya band. Tertawakan saya, tapi ya, saya pada masa-masa itu hampir selalu memakai celak mata. Saya tidak peduli itu membuat saya yang kurus semakin nampak seperti junki. Tentu saja saya juga menikmati sensasi efek luntur saat bubar berdansa selepas gigs. Tepuk tangan untuk Brian Molko [dan oh, Robert Smith].

molko & a new tomorrow

Tahun 2001, ketika walkman dan wadah khusus berisi koleksi kaset masih menjadi barang wajib di tas bagi mereka yang mengaku fanatik musik, saya berkenalan dengan seorang laki-laki dengan marten ungu dan kaus Tina Arena di pedalaman Jawa Barat. Hanya satu tape deck di rumah itu, dan kami berdebat kaset dari koleksi siapa yang akan diputar. Maka di sanalah kami saling membongkar koleksi kami, Without You I’m Nothing dan Black Market Music adalah beberapa gelintir kesamaan yang kami miliki. Jangan salahkan jika kemudian kami jatuh cinta. Sampai bertahun-tahun setelahnya, without you I’m nothing dan days before you came menjadi bagian dari soundtrack kisah cinta kami, yang biasa diputar di ujung gagang telepon saat merindu atau pasca perkelahian hebat antar kota. Auch. Maafkan, tapi bagaimana lagi saya menceritakan keseharian saya dan Placebo selain sekedar contoh-contoh kecil semacam ini?

Sleeping with Ghost dan Meds tentu saja turut menari-nari di folder s.i.n.g.a.l.o.n.g gigantic penumbra (ini nama CPU saya). Saya ikut bersedih ketika Hewitt pergi, dan jujur saya belum bisa menerima Forest untuk banyak alasan. Ia bagi saya agak memudarkan cerlang glam rock dari Placebo. Tapi seperti juga kita berkeberatan dengan perginya pacar asik yang sudah kita akrabi dan hadirnya pacar baru dari sahabat, kita sadar, hanya mereka yang benar-benar ada di sana. Dengan semua kegamangan, dengan semua keindahan, dengan semua konsekuensinya.

Waktu berlalu dan sudah sejak lama saya menyadari koleksi musik yang saya dengar lebih banyak “berjalan mundur”. Saya tidak mencari “Placebo-Placebo” selanjutnya, tetapi lebih sering menikmati mereka-mereka yang mengilhami “Placebo-Placebo”. Battle For The Sun tidak pernah hinggap di gigantic penumbra atau dellilah deluzt (ini nama laptop saya), saya merasa cukup mendengarnya saat bertandang ke komputer teman-teman. Perjalanan saya dan perjalanan Placebo bisa jadi, kini tidak lagi bersimpangan atau rehat rumpi di warung bir yang sama, sesering dulu.

Demikianlah kisah album Placebo yang dalam hidup saya, selain DVD konser Soulmates Never Dies, yang saya koleksi versi bajakannya. Ketika Molko dan Hewitt muncul sebagai band bernama Flaming Creatures, dan Olsdal sebagai anggota band Polly Small di film Velvet Goldmine yang [yang akhirnya ada bajakannya dan] saya tonton empat tahun sejak rilis tahun 1998, saya terharu. 20th century boys yang mereka pentaskan di film itu dengan segala kegenitan glam rock… ah Molko, Olsdal, dan Hewitt memang memiliki ruang berinterior cantik di hati saya. Glam rock bersemarak di hati saya sejak dulu hingga kini, dan Placebo adalah salah satu gemerlap yang membuat laron seperti saya enggan berhenti mengerubuti.

Dan laron ini akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menabrak-nabrak lampu taman protege moi. Minggu menjelang kedatangan mereka, ternyata bukan minggu terbaik dalam hidup saya. Emosi dalam tensi berbahaya, rencana-rencana berantakan, kepercayaan dihancurkan. Tapi bayangan akan Placebo di depan mata, selalu membuat saya bisa tersenyum, sekecil apapun. Saya berangkat ke Jakarta beberapa hari sebelumnya, bersama satu rombongan teman-teman berjaket kulit dan bersepatu boots. Bukan, mereka tidak hendak menonton Placebo, melainkan menuju masberto untuk Tribute to Misfits. Bis mereka lah yang saya tebengi dari Bandung, dengan teknis keberangkatan yang cukup mengharukan saya. Setelah gigs punk – ya sepertinya mereka anak punk, hihi – itu berakhir lewat tengah malam, kami berpisah dan bis kembali beranjak ke bandung. Beberapa teman membekali saya dengan titipan mata untuk Placebo dan entah berapa kali ujaran andai oh andai kami semua bisa menyaksikan konser yang dinantikan itu. Teman-teman punk, baiklah saya menuju beberapa hari lagi untuk gigs post-punk, ini untuk kita semua. Yeah!

Saya tiba di Tennis Indoor, setelah berulang kali salah pintu gerbang dan harus bolak balik menikmati macet Jakarta, bersama 3 orang teman yang baru datang sore itu dari Bandung. Agak gerimis dan tanah basah. Merokok beberapa batang sebelum memutuskan masuk. Saya edarkan pandang. Tidak banyak orang yang saya kenal atau gaya yang saya kenal, malam itu. Berbeda dengan masa ketika saya menonton bjork atau suede, misalnya. Di mana kalian semua?

Sayang sekali saya harus berpisah dengan ketiga teman maniak Placebo tadi, karena mereka memegang tiket tribun. Bergabunglah saya dengan teman-teman festival saya, tiga orang perempuan yang ternyata sudah mempersiapkan diri dengan bocoran daftar lagu yang akan dihadirkan malam itu dan seorang laki-laki berdarah panas. Salah seorang perempuan itu, seorang sahabat penuh semangat, berkata pada teman yang lain, sansan yang memperkenalkan Placebo pada saya! Ah saya pun lupa, dan dia mengingatkan, itu adalah album without you I’m nothing. Memori pun berhamburan. Segala keceriaan itu agak terlukai oleh penampilan pembuka dari DJ entah siapa, dengan koleksi lagu yang membuat mengernyit. Teriakan perintah turun pun membahana.

Lalu, lampu mati. Histeria. Lampu menyala kembali, di panggung berkeliaran para kru. Seorang kru berperawakan seperti anggota hell angels mempersiapkan mike, tersenyum pada kami dengan cara menyebalkan. Terasa lama sekali. Hampir jam 9 malam ketika akhirnya Molko, Olsdal, dan Forrest muncul. Histeria kali ini sungguh memekakkan telinga. For What It’s Worth meningkahi gemuruh itu. Suara Molko terdengar, hanya dalam beberapa meter rambatan getaran suara. Hypnotized. Tapi tidak lama, mereka yang di sekeliling saya langsung menggila, berloncatan seperti pegas rusak dan ikut bernyanyi. Mungkin saya juga. Saya lebih ingat betapa saya terperangah. Ini benar-benar terjadi. Dan saya bahagia.

Saya ingat Olsdal yang sangat seksi dalam balutan kemeja hitam dan celana perak, oh pendapat saya bahwa gay keren selalu lebih keren dari pada pria non-gay kebanyakan sangat terbukti malam itu. Saya ingat gemulai tubuh Olsdal dan sorot matanya yang dingin dan senyumnya yang manis dan cabikan basnya yang mantap. Saya ingat Molko hampir selalu mengganti gitarnya setiap pergantian lagu, citra androgyny yang menjadi terasa berlebihan maknanya malam itu, karena bagi saya Molko tetap Molko, dan ah dia memang kerap menanggung ekspektasi berlebihan dari kita semua. Saya ingat Molko tidak terlalu banyak bicara. Saya ingat tato dan gaya sangat anak emo dari Forrest dan tulisan a new tomorrow di drumnya. Saya ingat visual-visual keren yang melatarbelakangi penampilan mereka dan lampu warna-warni. Saya ingat additional Fiona Bryce dengan begitu banyak alat musik di tangannya. Sisanya adalah pandangan yang tertutup tubuh-tubuh tinggi dan lambaian-lambaian tangan di hadapan saya.

b (1)

Ya, ya. Saya tahu. Saya tahu saya tidak bisa banyak berharap lagu-lagu dari tiga album pertama yang akan dibawakan saat mereka jelas-jelas sedang tur untuk promo album terakhir (plus pernyataan mereka untuk tidak akan lagi membawakan beberapa lagu yang saya impikan). Masa-masa ketika ketika saya tumbuh dewasa, tertawa dan menangis bersama Placebo. Itu akan terlalu memanjakan saya. Hampir setengah dari lagu yang dibawakan diambil dari Battle for the Sun, seperempat Meds, seperempat lagi dari Sleeping with Ghost dan Black Market Music. Itu perkiraan serampangan karena saya tidak mencatat. Secuil lagi dari dari album kedua. Dua lagu kejutan. Tiada satu pun dari album pertama.

Saya tentu ikut bersenandung dengan suara tidak merdu saya atau bergumam mengikuti senandung Molko, terutama di bagian refrain dan bagian-bagian puitis yang mengena. Sudah bisa dibayangkan saya menggila dengan agak malu-malu saat Every Me and Every You mengalun (saya tidak punya banyak pilihan! haha), tidak terkendali saat melodi Special K menyayat telinga, dan nyaris menangis saat tahu Soulmates masuk dalam pilihan lagu malam itu. Well, battle for the sun is a special need(s) otherwise you have to follow the cops back home and breathe underwater. Song to say goodbye has come undone, the never ending why for bright lights of soulmates give you meds either a devil in detail. Use your infra-red or you’ll be Trigger Happy (ah, lagu baru ini harus saya cari).

Begitulah saya terhanyut dalam gegap gempita malam itu, berusaha memotret dan kerap kali gagal karena terombang-ambing pecinta lain atau terhalangi mereka yang bertubuh besar. Beberapa kali saya tak bisa menahan tawa, karena di belakang saya, berdiri seorang fans sejati yang hapal semua lagu dari awal sampai akhir. Cukup mengganggu karena kadang-kadang suaranya yang sangat lantang mendominasi telinga, dan terutama, karena bahasa Inggris dalam logat sundanya yang sangat kental. Dik, kamu menggemaskan deh, sayang ya lagu panon hideung kita tidak dibawakan.

Lalu setelah Bitter End menghentak kepala saya dalam keindahannya, mereka meninggalkan panggung. Ah, waktu istirahat. Mereka kembali untuk beberapa lagu, dan setelah membuat saya tersedak dalam haru untuk Taste in Men, mereka pun beriringan berdiri di mulut panggung dan membungkuk bersama. Hey! Apa? Itu tadi encore?!? Tidak. Itu bukan encore, kata saya pada sang sahabat bersemangat. Tapi dia yang sudah tahu daftar lagu berpendapat lain, walau ia pun berharap salah. Maka berdirilah kami di sana dengan teriakan klasik we want more. Hanya beberapa detik, karena suara (dan tubuh) kami kemudian teredam arus masa yang membalikkan badan menuju pintu keluar, dan beberapa detik kemudian, lampu menyala.

Ada perasaan aneh menjalar di dada saya. Antara energi terkuras ketika histeria itu usai, linglung beberapa jenak untuk berusaha mencerna apa yang terjadi baru saja di hadapan saya, dan kesedihan karena menyadari sebuah perpisahan kecil antara saya dan Placebo. Saya seperti membutuhkan sebuah pelukan. Saya yang egois tentu berharap mereka datang setidaknya lima tahun lalu. Ketika saya dan teman-teman masih kerap minum-minum bersama di bar atau taman kota yang sama bersama Placebo. Tapi saya tetap merasa bersyukur mereka mau bertandang, walau saya juga merasa sedikit kecewa.

Ya. Kecewa. Tidak peduli orang-orang berkata mereka bermain apik malam itu, di telinga saya permainan mereka kurang memuaskan. Saya memang tidak bisa bermain musik apalagi punya band yang pernah manggung. Tapi saya seperti menangkap sayatan biola Bryce yang tiba-tiba melengking keluar jalur, suara Molko tiba-tiba teredam petikan gitarnya sendiri, nada-nada lain yang terdengar terpeleset, harmonisasi tidak terjaga. Bahasa umum yang sering saya dengar untuk persoalan semacam ini adalah: mereka bermain kurang rapi. Saya tahu mereka juga melakukan improvisasi, tapi itu terasa tidak sebandel versi rekamannya, bahkan kerap kedodoran. Apa itu efek karena saya berdiri tidak terlalu jauh speaker? Entahlah. Saya juga menangkap kesan satu lagi: penampilan robotik dari band-band ternama yang sudah terlalu biasa menggelar konser. Ini memang tidak bisa disalahkan, bayangkan saja mereka mengulang-ulang lagu-lagu yang nyaris sama selama berbulan-bulan. Apalagi, saya bisa merasakan antusiasme penonton malam itu yang lebih senang diam terperangah (mungkin saya juga sempat begitu), tidak banyak melakukan aksi-aksi tubuh jumpalitan yang bisa membuat mereka yang di atas panggung semakin terpacu detaknya dan menanggalkan setrum robotik mereka.

Hujan di luar Tennis Indoor Senayan dan saya tidak mendapatkan pelukan dari siapa pun, tentu saja. Saya meresapi waktu yang terentang sekian lama antara saya dan Placebo. Betapa pun saya menginginkan Hewitt kembali misalnya, itu adalah harapan konyol sok tahu karena saya tidak berada di sana saat masa-masa buruk hubungan mereka. Forrest, 22 tahun, jelas menularkan semangat kemudaan terhadap Placebo, menawarkan kesegaran dan optimisme. Dan betapapun bodoh saya mengkotakkan genre sesuai hasrat saya, Placebo adalah musik itu sendiri, jengahlah pada segala pelabelan apapun. Akhirnya saya tahu, sayalah yang rasanya ingin memeluk mereka erat, “tidak apa-apa, sahabat lama. kalian luar biasa, terima kasih sudah bertahan dan mau berkunjung ke rumah kami, meski harus menunggu sekian lama”.

Demikianlah. Saya langsung pulang ke bandung malam itu dengan ketiga teman tribun saya yang terus-terusan protes bahwa seharusnya penonton festival yang kalem itu dipindahkan saja ke tribun, karena merasakan hasrat aksi tubuh jumpalitan yang meledak-ledak di atas sana. Saya hanya tertawa. Cobalah ada di bawah sana, pikir saya.

Dan seperti sms singkat dari salah seorang teman tribun itu ketika kami terpisah sebelum konser dimulai: ternyata pintunya beda ya.., yang saya lantas respon dengan satu kontak telepon. Carilah saya di keramaian, ujar saya. Dan dia menjawab manis, saya selalu menemukanmu di keramaian. Sebagaimana hubungan kami selama bertahun-tahun yang selalu naik turun, keabadian perubahan yang nampak selalu berhasil memisahkan kami, namun seperti juga Placebo dan saya: it stays. Dialah laki-laki dengan marten ungu itu, dan Placebo, malam itu, mempertemukan kami kembali.

Bandung, 20-28 Februari 2010.

PS: sumpah mati saya tidak bermaksud gagal mengambil foto Forrest, namun sungguh posisinya di luar jangkauan saya (hey! Jangan2 saya tdk berkonsentrasi. Haha). Juga maafkan untuk hasil-hasil blur dari tangan kecil ini. Oh.

==========================

| PLACEBO LIVE IN JAKARTA, 16 JANUARI 2010 |